Istilah LoA yang baru saya kenal setelah bergabung dengan komunitas ini, sungguh menakjubkan. Karena jauh sebelum mengenal komunitas ini saya sudah memimpikan sesuatu. Hanya saja mimpi itu menjadi sulit saya wujudkan karena belum ketemu bagaimana cara mewujudkannya.
Mimpi, bahwa kelak dari uang yang bisa saya kumpulkan, saya bisa mendirikan semacam komunitas yang bergerak semakin melebar dan semakin besar. Yang nantinya akan memiliki power untuk membangun negeri ini. Mimpi yang ternyata ada di dalam visi dan misi TDA.
Dulu saya berfikir, dengan menjadi TDB, saya akan memiliki gaji yang bisa saya gulirkan untuk usaha bagi rekan-rekan saya yang belum memiliki penghasilan. Dengan harapan ketika mereka berhasil memajukan usahanya, modal yang saya berikan akan bisa bergulir lagi.
Namun ternyata tanpa ilmu semua itu hampir hanya tinggal mimpi. Saya katakan hampir hanya tinggal mimpi karena itu nyaris tidak akan terwujud.
Ilmu yang saya punya belum memadai untuk merealisasikan mimpi saya. Saya belum punya langkah-langkah yang harus ditempuh selain niat untuk berbagi kesempatan dengan teman-teman yang kurnag beruntung.
Berbagai milist wirausaha saya coba ikuti. Tapi tetap saja tidak sesuai dengan apa yang saya butuhkan. Tetap saja tidak sreg dengan hati.
Sampai akhirnya saya mengunjungi EU pak Purdhie Candra dan terdampar di blognya pak Hadi Kuntoro. Dan mengunjungi blog petinggi-petinggi TDA. Saya merasa inilah komunitas yang sesuai dengan mimpi saya.
Mimpi untuk memberikan kesempatan kepada kaum pengangguran untuk juga dapat berkarya. Mimpi untuk menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang terhormat. Bukan bangsa yang menadahkan tangan kepada bangsa lain.
Terima kasih TDA, akhirnya kutemukan dirimu. Semoga secercah niat yang telah menggumpal bisa menjadi amunisi untuk terus bergerak menggapai visi dan misi.
Thursday, August 2, 2007
Wednesday, August 1, 2007
Semangat untuk segera TDA semakin terbakar nih..........!!!!!!!!!!!
Kadang saya kesal sendiri dengan banyaknya kesempatan bagi entrepreneur yang lokasinya di jawa sana. Bukan sekedar iri atau benci dengan kondisi ini. Tapi ini menjadi cambuk buat saya yang jauh dari 'pusat kekuasaan' komunitas TDA untuk segera menjadi TDA. Setidaknya untuk segera menyisihkan sumber daya agar bisa ikut serta mengikuti kegiatan-kegiatan TDA.
Setiap melihat postingan akan adanya kegiatan dari TDA, saya selalu menjadi kesal sendiri. Kesal karena belum mampu untuk ikut serta. Kesal karena belum bisa seperti teman-teman TDA lainnya yang memiliki kesempatan untuk meningkatkan ilmunya.
Akankah saya bisa juga mengikuti kegiatan ini nantinya???
inilah planning saya :
- Setelah menikah nanti, karena berbeda tempat tinggal dengan calon suami setidaknya saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi 'pusat kekuasaan' TDA ini. Setidaknya 1x sebulan.
- Setelah masa wajib kerja (kaya militer aja)selesai (+/- 4 thn lagi) saya akan segera menyampaikan surat resign. (Mudah-mudahan gak berubah pikiran nantinya).
- Begitu keluar dari TDB, saya akan melaksanakan apa yg menjadi cita-cita saya. dan melampiaskan kekesalan saya selama ini karena gak bisa ikutan di kegiatan TDA.
Semoga keinginan ini bisa segera terwujud. Karena semakin lama ikut di TDA, saya semakin penasaran ingin ikutan juga acara on air nya (selama ini cuma menjadi penikmat off air aja).
Sambut saya TDA, Target saya TDA Media dan TDA Finance nih, Juga TDA Qalbun Salim. I like it so much................
---------------
YM : amethys_tangens
Setiap melihat postingan akan adanya kegiatan dari TDA, saya selalu menjadi kesal sendiri. Kesal karena belum mampu untuk ikut serta. Kesal karena belum bisa seperti teman-teman TDA lainnya yang memiliki kesempatan untuk meningkatkan ilmunya.
Akankah saya bisa juga mengikuti kegiatan ini nantinya???
inilah planning saya :
- Setelah menikah nanti, karena berbeda tempat tinggal dengan calon suami setidaknya saya memiliki kesempatan untuk mengunjungi 'pusat kekuasaan' TDA ini. Setidaknya 1x sebulan.
- Setelah masa wajib kerja (kaya militer aja)selesai (+/- 4 thn lagi) saya akan segera menyampaikan surat resign. (Mudah-mudahan gak berubah pikiran nantinya).
- Begitu keluar dari TDB, saya akan melaksanakan apa yg menjadi cita-cita saya. dan melampiaskan kekesalan saya selama ini karena gak bisa ikutan di kegiatan TDA.
Semoga keinginan ini bisa segera terwujud. Karena semakin lama ikut di TDA, saya semakin penasaran ingin ikutan juga acara on air nya (selama ini cuma menjadi penikmat off air aja).
Sambut saya TDA, Target saya TDA Media dan TDA Finance nih, Juga TDA Qalbun Salim. I like it so much................
---------------
YM : amethys_tangens
Tuesday, July 31, 2007
Menuju Mimpi Abadi
Mungkin rekan-rekan yang membaca tulisan ini agak bingung dengan judul yang saya buat. Saya juga bingung bagaimana menjelaskan apa yang saya maksud mimpi abadi.
Tapi izinkan saya sedikit bercerita kenapa saya memilih judul ini untuk tulisan kali ini.
Kemaren malam, seseorang yang sangat dekat dengan saya menghubungi via telpon. Seperti biasanya selama kurang lebih sebulan terakhir ini kami berkomunikasi lewat telepon dan sms.
Terkadang timbul rasa takut di hati ini. Takut apakah langkah yang saya tempuh ini sudah benar dan berada di jalur yang benar? Takut apakah saya telah benar menjatuhkan pilihan. Takut apakah nanti akan menjadi penyesalan dihati saya.
Tapi semua ini hanya menimbulkan satu akibat buat saya. Bahwa ini adalah tantangan yang harus saya selesaikan sebaik-baiknya. Bahwa ini adalah jalan membangun mimpi-mimpi saya. Bukan mimpi menaklukan dunia atau menjadi penguasanya, tapi mimpi bahwa kelak ketika bertemu Sang Pencipta, kita bisa tersenyum dihadapanNya. Tersenyum karena hidup ini berlalu dengan indah, dan di saat berjumpa denganNya pun menjadi saat-saat terindah.
Saat ini, hanya Bismillah yang bisa saya panjatkan sekaligus juga menancapkan niat di hati, semoga proses yang sedang berjalan ini akan segera menemui akhir yang diniatkan.
Mohon doanya...
(bersambung)
Tapi izinkan saya sedikit bercerita kenapa saya memilih judul ini untuk tulisan kali ini.
Kemaren malam, seseorang yang sangat dekat dengan saya menghubungi via telpon. Seperti biasanya selama kurang lebih sebulan terakhir ini kami berkomunikasi lewat telepon dan sms.
Terkadang timbul rasa takut di hati ini. Takut apakah langkah yang saya tempuh ini sudah benar dan berada di jalur yang benar? Takut apakah saya telah benar menjatuhkan pilihan. Takut apakah nanti akan menjadi penyesalan dihati saya.
Tapi semua ini hanya menimbulkan satu akibat buat saya. Bahwa ini adalah tantangan yang harus saya selesaikan sebaik-baiknya. Bahwa ini adalah jalan membangun mimpi-mimpi saya. Bukan mimpi menaklukan dunia atau menjadi penguasanya, tapi mimpi bahwa kelak ketika bertemu Sang Pencipta, kita bisa tersenyum dihadapanNya. Tersenyum karena hidup ini berlalu dengan indah, dan di saat berjumpa denganNya pun menjadi saat-saat terindah.
Saat ini, hanya Bismillah yang bisa saya panjatkan sekaligus juga menancapkan niat di hati, semoga proses yang sedang berjalan ini akan segera menemui akhir yang diniatkan.
Mohon doanya...
(bersambung)
Monday, July 30, 2007
Cerita seekor Lalat
Saya jadi tertarik untuk meposting email dari rekan saya ini. Sebuah email yang menggugah kesadaran untuk menggunakan cara yang berbeda dalam mencapai hasil yang berbeda. Semoga anda juga terinspirasi dengan hal ini.
Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. "Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar" katanya.
Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.
Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.
Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.
Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua "Ada apa dengan lalat ini Pak?, mengapa dia sekarat?".
"Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita" Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi "Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? kenapa tidak berhasil?".
Masih sambil berjalan dan memangggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab "Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama". Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius "Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini".
"Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda"
.
Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta diatas sebuah tong sampah didepan sebuah rumah. Suatu ketika anak pemilik rumah keluar dan tidak menutup kembali pintu rumah kemudian nampak seekor lalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menuju sebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. "Saya bosan dengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar" katanya.
Setelah kenyang si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menuju pintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutup rapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar dia bergabung kembali dengan mereka.
Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat dan menerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencoba keluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dari atas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik demikian terus dan terus berulang-ulang. Hari makin petang si lalat itu nampak kelelahan dan kelaparan dan esok paginya nampak lalat itu terkulai lemas terkapar di lantai.
Tak jauh dari tempat itu nampak serombongan semut merah berjalan beriringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan dan ketika menjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumuni dan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanan semut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itu menuju sarang mereka.
Dalam perjalanan seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yang lebih tua "Ada apa dengan lalat ini Pak?, mengapa dia sekarat?".
"Oh.. itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti ini, sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telah berjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu namun ketika tak juga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hingga akhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita" Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran dan bertanya lagi "Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? kenapa tidak berhasil?".
Masih sambil berjalan dan memangggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab "Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dan telah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama". Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya namun kali ini dengan mimik & nada lebih serius "Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama namun mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini".
"Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda"
.
Usaha menuju Kekayaan sejati

Menjadi Kaya menjadi impian dari banyak orang. Namun bagi saya kaya hanya lah salah satu cara bukanlah yang utama. Menjadi selalu bahagia adalah yang utama. Namun dalam salah satu blog yang pernah saya baca, milik bpk Adi Prayitno saya begitu terkesan dengan isinya.
Bahwa salah satu usaha untuk menjadi kaya adalah berani menikah. Deg... ini bukan sekali atau dua kali saya pernah dengar ataupun baca. Kenapa??? karena sebelumnya saya juga pernah menghadiahkan sebuah buku pada tante yang udah walimahan sebuah buku dengan judul "Menikahlah dan engkau akan menjadi kaya".
Jujur saja, menikah menjadi prioritas saya yang kesekian sebelumnya. Setelah berkali-kali gagal untuk mewujudkan. Akhirnya saya meniatkan menikah menjadi prioritas saya tahun depan.
Tapi setelah membaca Blog tersebut, kok ya rasanya ada yang kurang ya. Mencari kekayaan ataupun mencapai kebahagian rasanya gak akan utuh kalo hanya sendirian.
Benar juga mungkin jika menikahlah dan engkau akan kaya.
Walaupun awalnya, sulit juga mewujudkan, tetapi setelah menetapkan niat untuk segera menikah tahun ini juga, sepertinya LoA mulai bekerja. Sekitar beberapa hari setelah saya mencantumkan keinginan ini sebagai jawaban atas pertanyaan yang ada dalam buku Quantum Ikhlas, akhirnya saya mulai mendapatkan titik terang.
Akhirnya, saya berhasil juga menemukan seseorang yang bisa saya terima apa adanya, dan juga mau menerima kondisi saya apa adanya. Berusaha saling menghargai dan memahami.
Semoga niat untuk segera menggenapkan Separuh Dien ini segera terwujud. Niatnya sih November ini....Namun masalah utama untuk mengumpulkan biaya nikah dalam waktu dekat ini menjadi kesulitan tersendiri juga buat kami...
Semoga akan ada jalan keluar yang tak terduga dari Tuhan Yang Maha Pemurah Lagi Penyayang. Saya percaya itu. Karena berkali-kali saya telah merasakan kasih sayang Tuhan yang Maha Kaya ini. Amiin.
Mohon doanya ya rekan-rekan....
Subscribe to:
Posts (Atom)